Perjalanan sejarah ketas melukis di Indonesia telah menjadi bagian penting dalam perkembangan seni lukis di tanah air. Ketas merupakan alat yang digunakan untuk menorehkan cat minyak pada kanvas, sehingga memberikan hasil lukisan yang halus dan detail. Sejak dulu, seniman-seniman Indonesia telah menggunakan ketas sebagai media utama dalam berkarya.
Menurut Bambang Adhi Nugroho, seorang pakar seni lukis dari Universitas Indonesia, penggunaan ketas dalam lukisan telah dimulai sejak zaman kolonial Belanda. “Ketas menjadi pilihan utama para seniman pada masa itu karena kehalusan permukaannya dapat menangkap detail dengan sempurna,” ujar Bambang.
Salah satu seniman terkenal yang menggunakan ketas sebagai media lukisnya adalah Affandi. Dalam perjalanan sejarahnya, Affandi dikenal sebagai pelopor dalam mengembangkan teknik lukisan dengan menggunakan ketas. Lukisan-lukisannya yang penuh ekspresi dan detail menjadi bukti akan kepiawaiannya dalam mengolah ketas sebagai media lukis.
Perjalanan sejarah ketas melukis di Indonesia juga mencatat perkembangan pesat pada era modern. Seniman-seniman muda pun mulai mengadopsi penggunaan ketas dalam karya-karya lukisnya. Hal ini membuktikan bahwa ketas tetap relevan dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam dunia seni lukis di Indonesia.
Menurut Arie Smit, seorang seniman legendaris asal Belanda yang tinggal di Bali, “Ketas merupakan media yang sangat menarik bagi seniman karena kemampuannya untuk menciptakan tekstur dan detail yang menakjubkan dalam sebuah lukisan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa penggunaan ketas dalam seni lukis memiliki nilai estetika yang tinggi dan mampu memberikan keunikan tersendiri pada karya seni.
Dengan demikian, perjalanan sejarah ketas melukis di Indonesia tidak hanya merupakan warisan berharga dari masa lalu, namun juga terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam dunia seni lukis tanah air. Penggunaan ketas sebagai media lukis telah membuka ruang kreativitas bagi para seniman untuk terus berekspresi dan menghasilkan karya-karya yang memukau.